Minggu, 30 April 2017

Momok Obesitas & Solusi Bedah Bariatrik dari OMNI Hospital Alam Sutera

(Foto: Google)

Masalah obesitas kini kian menjadi momok yang mengancam kesehatan masyarakat di Indonesia. Prevalensi obesitas terus meningkat, baik di kalangan penduduk dari kalangan ekonomi menengah ke atas, maupun mereka yang berpendapatan rendah.

Di tingkat global, menurut radio BBC London yang mengutip hasil riset peneliti di seluruh dunia yang dipimpin oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Washington, tahun 2014 lalu, Indonesia dinyatakan berada di peringkat 10 dari daftar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia setelah AS, Cina, India, Rusia, Brasil, Meksiko, Mesir, Jerman, dan Pakistan.

Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan, secara nasional prevalensi obesitas sentral meningkat dari 18,8 persen pada tahun 2007 menjadi 26,6 persen pada tahun 2015.

Apakah yang dimaksud dengan obesitas itu? Apa dampaknya bagi kualitas kehidupan manusia?

Menurut Kamus Kesehatan (www.kamuskesehatan.com), obesitas adalah kondisi kronis di mana terdapat jumlah lemak tubuh berlebihan. Sejumlah tertentu lemak tubuh diperlukan untuk menyimpan energi, menginsulasi panas, meredam goncangan, dan fungsi lainnya. Jumlah normal lemak tubuh (dinyatakan sebagai persentase lemak tubuh) adalah antara 25% -30% pada wanita dan 18% -23% pada pria. Wanita dan pria yang memiliki lemak tubuh masing-masing lebih dari 30% dan 25% dianggap mengalami obesitas.

Perhitungan indeks massa tubuh (IMT) juga telah digunakan dalam definisi obesitas. IMT sama dengan berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter (m) kuadrat. Karena IMT menggambarkan berat badan relatif terhadap tinggi maka sangat berkorelasi dengan kandungan lemak total pada tubuh orang dewasa. Obesitas didefinisikan sebagai IMT 30 ke atas.

Obesitas (Foto: Google)

Sedangkan dampak obesitas, menurut Prof. Valerie H. Taylor, MD, PhD, dan kawan-kawan, dari Clinical Endocrinology & Metabolism, sebuah lembaga riset kesehatan terkemuka di AS, bisa memicu kesehatan mental para penderitanya yang sangat berdampak terhadap kualitas kehidupan individual mereka. Ini sangat membahayakan kesehatan para anggota masyarakat lainnya yang ada di sekitar para penderita obesitas itu.

Celakanya, kata Prof Ali Mokdad, dari IHME, tidak ada negara yang melawan obesitas karena ini adalah masalah baru. Praktis, hingga kini, baik di tingkat global mapun di level masing-masing negara, termasuk Indonesia, belum ada kebijakan nasional terkait penanggulangan obesitas.

Dikaitkan dengan prevalensi obesitas di kalangan masyarakat Indonesia yang terus meningkat tersebut, itu jelas merupakan ancaman cukup serius bagi pembangunan kesehatan bangsa ini yang kini terus berjuang mewujudkan “peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya” – seperti yang diamanahkan rakyat melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025.

Di tengah krisis itu, tampillah OMNI Hospital Alam Sutera dengan solusi efektifnya, yaitu Operasi Bariatrik.

OMNI Hospital Alam Sutera merupakan salah satu dari tiga rumah sakit yang beroperasi di bawah bendera OMNI Hospitals Group. Dua rumah sakit lainnya adalah OMNI Hospital Pulomas dan OMNI Hospital Cikarang.

OMNI Hospitals Group sendiri berdiri sejak tahun 1972 dan merupakan rumah sakit terkemuka di Indonesia yang mempunyai standar manajemen tinggi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang profesional. OMNI Hospitals Group saat ini telah melayani lebih dari 3 (tiga) juta pasien, dengan 30.000 operasi bedah, dan didukung oleh 210 para ahli medis dibidangnya.

Operasi Bariatrik (bariatric surgery) adalah operasi untuk menurunkan berat badan pada pasien obesitas morbid (obesitas yang menyebabkan penyakit) di mana metode lain seperti diet, olahraga dan pengobatan tidak efektif.

Operasi Bariatrik bekerja dengan salah satu dari tiga cara:
  1. Restriksi, yaitu membatasi jumlah asupan makanan dengan mengurangi ukuran lambung.
  2. Malabsorpsi, yaitu membatasi penyerapan makanan dalam saluran usus dengan “memotong-kompas” (bypass) sebagian dari usus kecil.
  3. Kombinasi dari restriksi dan malabsorpsi
Gastric banding dan bypass lambung adalah dua jenis bedah bariatrik yang paling umum.

Sejauh ini, Operasi Bariatrik merupakan terapi yang paling efektif dan aman dalam mengatasi obesitas dan kerap dijuluki secara ikonik sebagai #dietygtidakpernahgagal

Hingga kini, secara internasional, Operasi Bariatrik masih merupakan suatu tindakan medis yang tergolong canggih dan efektif. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia perlu berbangga hati karena di negara ini telah tersedia fasilitas tersebut, terutama di OMNI Hospital Alam Sutera.

Penulis sendiri memang bukan penderita obesitas, tetapi penulis pernah dirawat di salah satu #omnihospitals, yakni ketika penulis melahirkan anak bungsu saya tahun 2009, atau sekitar 8 tahun lalu.

Penulis menjadi saksi mata bahwa sistem pelayanan Care with Passion yang diterapkan oleh OMNI Hospitals Group, termasuk OMNI Hospital Alam Sutera, memang luar biasa dan jauh berbeda dibanding ketika penulis melahirkan dua anak sebelumnya di rumah-rumah sakit yang berbeda di Jakarta.

Care with Passion tersebut merupakan salah satu dari filosofi pengelolaan sistem kesehatan khas OMNI Hospital Groups, yaitu Care, Courtesy, Character, Capability.

Salah seorang perawat profesional OMNI Hospitals Group yang menangani kelahiran bayi bungsu penulis, tahun 2009. (Foto: dok. pribadi) 

Penasaran dengan Operasi Bariatrik? Silahkan simak video ini.



Tulisan ini diikutsertakan pada #lombablogbariatrik yang diadakan oleh OMNI hospital Alam Sutera  dengan tema Penanganan Obesitas dengan Bariatric Surgery.

#dietygtidakpernahgagal #omnihospitals #lombablogbariatrik


Referensi:
1. Kementerian Kesehatan RI
2. OMNI Hospitals Alam Sutera
3. Radio BBC London
4. Kamus Kesehatan – www.kamuskesehatan.com
5. Clinical Endocrinology & Metabolism, USA – DOI: http://dx.doi.org/10.1016/j.beem.2013.04.004
6. Dokumen pribadi

Sabtu, 29 April 2017

Rukamen, Cara Tercepat & Termurah Menyewakan Apartemen


Hai, para pemilik apartemen... Dengarkan ini... Ada kabar gembira untuk Anda. Mungkin ini kabar paling gembira bagi Anda selama ini.

Dengarkan ya? Anda sudah siap kan? Oke... Saya mau sampaikan kabar itu sekarang...

Oke...

Oh ya... Tunggu sebentar. Kabar gembira ini khusus untuk Anda-anda yang punya apartemen dan bermaksud untuk menyewakannya.

Tapi bagi Anda-anda yang punya apartemen namun belum berencana menyewakannya, tak masalah... Anda pun boleh mendengarkan penyampaian saya ini. Siapa tahu setelah ini, Anda berubah pikiran untuk menyewakan apartemen Anda... Hehehehe...

Baiklah... Let’s get to the business...


Saat Anda berniat untuk menyewakan apartemen Anda, apa yang pertama kali Anda pikirkan?

Saya tahu... Anda pasti memikirkan agen properti. Ya, kan? Soalnya selama ini sudah menjadi paradigma, bahwa agen properti adalah satu-satunya pilihan terbaik – terefisien, terefektif – dalam dunia penjualan dan penyewaan apartemen.

Jika Anda adalah penganut paradigma itu, dengan sangat menyesal, saya terpaksa mengatakan kepada Anda: “Paradigma Anda itu sudah ketinggalan zaman.”

Tolong maafkan saya kalau ucapan saya tersebut kurang enak dicerna. Tetapi saya melakukan itu demi kebaikan Anda sendiri. Demi Tuhan, saya nggak bohong.

Mengapa saya mengatakan bahwa paradigma tersebut ketinggalan zaman?

Karena sekarang sudah ada Rukamen.

Rukamen? Makhluk apa itu? Pasti hati Anda berbisik begitu kan? Hahaha...

Okay, listen...

Rukamen adalah situs Iklan listing dan database apartemen terlengkap di Indonesia. Rukamen siap membantu Anda dalam memaksimalkan iklan apartemen Anda sehingga bisa terjual dalam waktu singkat.


Waktu singkat? Berapa lama?

Bisa satu minggu. Ya, satu minggu setelah diiklankan, sudah ada konsumen yang menyewa apartemen yang Anda iklankan.

Tapi itu tergantung lokasi, wilayah, dan harga properti Anda.

Paling tidak, sekitar 1 hingga 2 bulan setelah diiklankan, insya Allah, apartemen Anda sudah ada yang menyewanya.

Jadi, 3-P di sini sangat menentukan. Product, Price, Place dari apartemen yang Anda tawarkan.

Tapi yang menjadi kunci utama agar apartemen Anda laku adalah SalesHack.

Nah, lho... Alien dari planet mana pula itu?

Hahahaha... Jangan takut! Ini bukan seperti hacker pada komputer. Sebaliknya, SalesHack adalah “malaikat” penolong Anda. Ini adalah Cara Cepat Sewa Apartemen sekaligus Cara Cepat Jual Apartemen.

SalesHack adalah sebuah paket jasa penjualan atau penyewaan apartemen Anda, yang akan membantu Anda dalam semua kebutuhan dan informasi yang Anda butuhkan dalam menjual properti Anda secara online. Ini mengurangi kebutuhan Anda pada perantara atau agen properti, sehingga Anda bisa menghemat uang komisi hingga ratusan juta rupiah.

Mengapa bisa lebih menghemat dalam menyewakan apartemen mengunakan SalesHack?

Ya, iyalah...

Bila Anda menyewakan apartemen Anda lewat agen properti, mereka akan mengutip komisi sekitar 2.5% dari harga jual. Pengeluaran Anda tidak seharusnya setinggi ini. Jika menggunakan SalesHack, Anda akan sangat menghemat banyak uang.

Apa saja yang bisa didapatkan dalam paket SalesHack ini?

Woow, banyak banget...

Anda akan mendapatkan jasa pengiklanan properti Anda melalui channel Rukamen ke berbagai macam media iklan – baik yang gratis maupun berbayar – dan juga media forum serta sosial media.

Iklan itu akan ditayangkan sampai Apartemen Anda laku.



Berapa harga service SalesHack?

Nah, ini yang paling menarik... Harga service SalesHack hanya Rp 399 ribu per unit apartemen yang Anda tawarkan. Bandingkan dengan belasan juta hingga ratusan juta rupiah yang Anda harus bayar pada agen properti untuk service yang sama.

Bagaimana tentang...

Stop! Stop!

Nanya-nanya melulu. Dasar bawel...

Udah, kalau Anda memang tertarik, hubungi aja sendiri Rukamen.

Nih website-nya: www.rukamen.com.

Kalau mau tahu lebih banyak tentang SalesHack, klik link ini: www.rukamen.com/saleshack

Bisa juga kalau mau nelepon maupun sms. Nih, nomor ponselnya Rukamen: 0812 12 12 3 503.
Hei, tunggu... Ada satu kabar penting lagi...

Rukamen bukan hanya untuk menyewakan, tapi juga untuk menjual apartemen dengan supercepat dan biaya supermurah, lho.

Apa? Mau cari informasi tentang harga dan biaya sewa apartemen di seluruh Indonesia?

Ya hanya di Rukamen...

Selasa, 25 April 2017

Visibilitas Produk, Cuma Itu kok Masalahnya...

Pak Hadi, pedagang keliling kerajinan bambu di Kalimantan Timur. (Foto: Eksposkaltim)

Hah? Benarkah? Idih, tragis amat...

Menurut Samanta (http://grassamanta.blogspot.co.id/2016/03/sai.html), pedagang keliling seperti jamu gendong, penjual sayur, dan sebagainya, harus berjalan kaki rata-rata sejauh 17 km per hari demi memburu pembeli.

Kayaknya Samanta nggak bohong. Meski ia hanya seorang pemuisi, tetapi mayoritas puisinya ia tulis berdasarkan fakta-fakta hasil riset yang valid.

Dan, memang, kalau kita amati di lapangan, apa yang diungkapkan penyair unik itu benar adanya.

Coba lihat...

Pak Hadi, misalnya, pedagang keliling kerajinan bambu di Kalimantan Timur, yang tiap hari harus berjalan kaki berkilo-kilo meter sambil mendorong gerobaknya.

Para penjaja kasur dan bantal di seputar Jabodetabek malah lebih parah lagi. Mereka harus memikul dagangannya yang lumayan berat, semata-mata untuk mengejar para calon pembeli.

Para pengasong barang-barang kelontong di Makasar, Sulawesi Selatan, masih mendingan. Mereka menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda tiga, untuk menawarkan dagangannya di gang-gang dan sudut-sudut kampung.


Di New York City, Amerika Serikat, seorang penjaja hot dog rela membayar sebanyak USD 289,000 (sekitar Rp 4 milyar) per tahun demi visibilitas usahanya. (Foto: fslyb.com)


Begitu pula para pedagang pakaian di Sumedang, Jawa Barat, yang menggunakan mobil-mobil angkot yang dipermak menjadi toko-toko keliling.

Tetapi, fenomena seperti semua yang dilukiskan di atas ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara barat semua itu masih menjadi pemandangan sehari-hari.

Bedanya, di negara-negara kaya itu para pedagang kelilingnya sebagian besar tergolong tajir.

Contohnya di New York City, Amerika Serikat, para penjual makanan mengasong di jalan-jalan raya, dan terkadang mangkal di tengah jalan – meskipun untuk itu ada di antara mereka yang harus membayar USD 289,000, atau sekitar Rp 4 milyar, per tahun (lihat di fslyb.com).

Berbagai sikap dan perilaku yang unik, menyedihkan, dan terkadang nekat atau konroversial, yang ditunjukkan para pedagang itu – menurut para pakar bisnis – merupakan bukti kian ketatnya persaingan dalam dunia penjualan barang dan jasa, baik yang berskala gurem maupun raksasa, di seluruh pelosok bumi, baik di perkotaan maupun perdesaan.


Untuk mengerek visibilitas produknya, pabrik roti Mars di Edgewood, Maryland, Amerika Serikat, menciptakan salah satu dari roti produk mereka dengan ukuran yang pas untuk diangkut dengan truk gandeng raksasa. (Foto: shareably.net)


Para dedengkot marketing, antara lain Neil H. Borden, mengungkapkan, untuk mengerek keberhasilan pemasaran suatu produk di tengah kian bengisnya persaingan bisnis di seluruh dunia, para produsen perlu menerapkan “7-P” yang kini makin menjadi mantra bisnis yang dianut banyak pengusaha, yaitu:
  1. Product (produk) yang perlu didesain sesuai kebutuhan konsumen;
  2. Price (harga) yang perlu ditetapkan secara kompetitif dan terjangkau;
  3. Place (tempat) yang mudah dicapai secara fisik;
  4. Promotion (promosi) untuk memperkenalkan sekaligus meningkatkan visibilitas produk;
  5. People (orang-orang) yang menjadi sasaran promosi;
  6. Physical evidence (bukti fisik) seperti seragam, fasilitas, dan ciri khas, dan
  7. Process (proses) berupa sensasi pengalaman pelanggan atau calon pelanggan secara keseluruhan, misalnya kunjungan gratis ke Dunia Fantasi sebagai suatu bentuk promosi yang efektif.

Dari ketujuh “P” ini yang paling menentukan laku atau tidaknya barang maupun jasa yang ditawarkan ialah Promosi. Dan substansi dari Promosi ini, menurut para ahli, ialah visibilitas produk – yang intinya adalah “bagaimana agar produk maupun jasa tersebut selalu dilihat sehingga lebih berpeluang dipilih untuk digunakan oleh konsumen”.

Pendek kata, visibilitas adalah faktor penentu yang paling strategis bagi sebuah bisnis yang sekecil maupun segede apapun.

Demi meraih visibilitas itulah sehingga para pengasong di Indonesia harus bejalan kaki 17 km per hari; dan rekan mereka di negeri Paman Sam harus membayar Rp 4 milyar per tahun.

Perempuan penjual sayur keliling. (Foto: Kompasiana)

Namun, menurut para profesional Bisnis Online, seperti Catalin Zorzini, dalam era kehidupan yang semakin digital ini, sudah bukan zamannya lagi para pemasar atau pedagang bertindak yang aneh-aneh – misalnya berjalan kaki sejauh 17 km, atau membayar Rp 4 milyar per tahun – dalam upaya meningkatkan visibilitas mereka.

Karena internet dewasa ini makin menyebar hingga ke pelosok-pelosok terpencil di seluruh planet ini.

Internet – yang kini makin memenuhi semua hajat hidup manusia, termasuk dalam dunia jual beli barang dan jasa – bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Bisnis Online sehingga tiap produsen atau pengasong tak perlu lagi berjalan kaki jauh-jauh, dan tak perlu membayar mahal-mahal.

Dengan Bisnis Online, Semua barang dan jasa yang mereka tawarkan bukan hanya akan meroket visibilitasnya, melainkan juga bakal sangat luas daya jangkaunya. Dan yang lebih penting lagi, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk itu amatlah minim.

Semua yang diungkapkan para ahli Bisnis Online itu bukan sekadar teori. Banyak bukti konkretnya di lapangan.

Salah seorang penjaja kasur dan bantal di Jabodetabek. (Foto: Google)

Contohnya di pedalaman Bogor, Jawa Barat. Sejak berpuluh tahun lalu, banyak pengrajin kecil yang memproduksi barang-barang seperti tas, jaket, sepatu, T-shirt, dan sebagainya, secara rumahan, dengan modal dan skala yang pas-pasan.

Dulu, sebelum hadirnya internet, mereka hanya mampu memasarkan produknya ke berbagai pasar di sekitar Bogor, atau melalui para pedagang asongan. Total penjualannya sangat terbatas, bahkan ada yang tidak laku, sehingga banyak di antara mereka waktu itu yang terpaksa gulung tikar.

Sejak 4 tahun yang lalu, ketika jaringan internet di sana telah lancar, mereka pun mulai mencoba memasarkan produknya melalui Bisnis Online. Kini mereka berhasil menjual dagangannya itu ke seluruh Indonesia, bahkan ada yang sampai ke Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah. Omsetnya pun melejit sampai rata-rata di atas enam kali lipat.

Pedagang pakaian di Sumedang, Jawa Barat. (Foto: Google)

Contoh-contoh keberhasilan Bisnis Online seperti itu banyak terjadi di seluruh Indonesia.

Uniknya, Bisnis Online itu bisa diterapkan oleh produsen yang berskala terkecil maupun terbesar. Pendek kata, ia merupakan sistem penjualan yang terjangkau oleh semua size pedagang.

Selain itu, Bisnis Online sangat ramah lingkungan (friendly environmental), utamanya karena ia sangat kurang menggunakan kendaraan bermotor pemicu terjadinya emisi karbondioksida yang merupakan penyebab utama pemanasan global (global warming) yang makin mengancam umat manusia di bumi dewasa ini.

Pendek kata, ia merupakan sebuah bisnis hijau (green business) yang sangat menunjang upaya pelestarian lingkungan hidup.

Pedagang keliling di Makasar, Sulawesi Selatan. (Foto: Antara News)

Lantas, sekarang, bagaimana langkah-langkah Bisnis Online itu?

Menurut para pakar, kesuksesan sebuah Bisnis Online tergantung pada 20 langkah:
  1. Memantapkan dan memelihara kerja sama jangka panjang dengan sebuah perusahaan web hosting;
  2. Menjamin agar website yang digunakan sangat aman dan dapat diandalkan, utamanya dengan dukungan teknis dari para staf perusahaan web hosting yang bersangkutan;
  3. Menciptakan ide bisnis yang unik;
  4. Menciptakan proposisi penjualan yang lain dari yang lain;
  5. Membidik calon pelanggan yang tepat;
  6. Memicu daya pikat pada pandangan pertama;
  7. Menyajikan detail tiap produk secara audio-visual di samping tekstual;
  8. Menciptakan sistem pemberian poin atau hadiah guna menarik hati pelanggan dan calon pelanggan;
  9. Mempermudah tiap konsumen dalam mengakses dan menelusuri tiap item yang dipasarkan;
  10. Menciptakan sistem dukungan percakapan langsung untuk membantu tiap pelanggan maupun calon pelanggan;
  11. Menjamin kesempurnaan daftar dan keranjang belanja tiap pembeli;
  12. Menjamin strategi pengiriman barang yang cepat, efektif, efisien, dan kompetitif;
  13. Mengembangkan sistem umpan balik yang sangat mempernyaman tiap pelanggan;
  14. Menciptakan dan mengelola blog pendukung yang selalu ter-update;
  15. Menciptakan halaman profil yang menggugah;
  16. Mengembangkan brosur atau berkala agar tiap pelanggan maupun calon pelanggan memperoleh informasi yang baik dan benar;
  17. Memanfaatkan media sosial – utamanya Facebook, Twitter, dan Instagram – untuk memacu promosi;
  18. Mengembangkan sistem reselling yang menguntungkan semua pihak;
  19. Memberi dukungan khusus kepada para pelanggan maupun calon pelanggan yang menggunakan ponsel atau smartphone;
  20. Membangun strategi optimalisasi mesin pencari (SEO) yang paling efektif.
Dari ke-20 langkah tersebut, ada 3 faktor strategis sekaligus pemasti visibilitas sekaligus kesuksesan sebuah Bisnis Online:
  1. Penguasaan ketrampilan mendesain dan mengelola website;
  2. Penguasaan pengetahuan di bidang digital marketing; dan
  3. Penguasaan ketrampilan desain grafis.
Tanpa ketiga faktor ini, jangan pernah bermimpi untuk ber-Bisnis Online.

Senin, 10 April 2017

Memesona Orang-orang Sesuai “Jarak Relasi”


Tampil #MemesonaItu adalah impian setiap manusia normal di planet ini.

Tiap orang – pria atau wanita, tua maupun muda, kaya ataupun miskin, rakyat terjelata hingga pejabat tertinggi, pendek kata: semua kalangan – selalu berusaha untuk tampil memesona, baik di lingkungan sosialnya yang internal maupun eksternal.

Semua itu manusia lakukan mulai dari hanya sekadar “diterima” atau “mempertahankan posisi” di sebuah lingkungan sosialnya, hingga “merebut kendali” di sebuah lingkungan yang lebih eksklusif. Semua ini dilandasi berbagai level dari motivasi “kebutuhan” hingga “keinginan” dan “ambisi” manusia itu sendiri dalam menjalani kehidupannya.

Jadi, jelaslah, tampil #MemesonaItu merupakan kebutuhan tiap orang untuk memelihara ketahanan hidup serta eksistensinya di muka bumi ini.

Lantas, apakah yang dimaksud “tampil #MemesonaItu”?

Jawabannya adalah: tergantung “siapa” sasaran dari pesona yang kita ingin tebarkan itu. Ini terkait dengan “jarak relasi” kita masing-masing, yang terdiri dari 5 (lima) level, yaitu: (1) Jarak relasi yang “terdekat”; (2) Jarak relasi yang “dekat”; (3) Jarak relasi yang “agak jauh”; (4) Jarak relasi yang “jauh”; dan (5) Jarak relasi yang “terjauh” – yang selaras dengan nilai-nilai budaya, tradisi, serta berbagai preferensi etika lainnya yang berlaku di lingkungan sosial yang bersangkutan.


Jarak relasi yang pertama, yaitu yang “terdekat”, adalah dengan “pasangan hidup” atau “kekasih” kita. Dalam konteks ini, tampil memesona di hadapannya lebih banyak didominasi motivasi-motivasi yang bersifat “pribadi” seperti “kasih sayang”, “saling memiliki”, dan “kekeluargaan”. Oleh karena itu, maka jenis pesona yang kita tampilkan untuk jarak relasi “terdekat” ini pun lebih bersifat pribadi, bahkan “intim”. Malah, jika pasangan hidup kita itu sudah “legal”, sebaiknya pesona yang kita tampilkan untuknya lebih banyak dibumbui dengan “erotisme”, “cinta” – utamanya “cinta berahi” yang dilandasi hasrat-hasrat seksual, di samping “cinta platonik” yang bersifat spiritual dan kekeluargaan – serta “adegan-adegan romantis dan mesra” yang akan makin mengokohkan hubungan kita dengan dia secara fisik, mental, dan spiritual.

Selanjutnya, yang kedua, ialah jarak relasi yang “dekat”, yaitu dengan anak kandung kita, kedua orang tua kita, dan saudara kandung kita. Jarak relasi di sini masih bersifat “pribadi” tetapi tidak “intim”. Di sini pun wajib ada “cinta”, tetapi “cinta platonik”, dan bukan “cinta berahi” seperti pada jarak relasi yang “terdekat” tersebut di atas. Pada jarak relasi yang “dekat” ini sama sekali tidak ada “erotisme”. Memang di sini masih ada “adegan-adegan mesra” tetapi tidak “romantis” dan sangat berbeda dibanding adegan-adegan pada jarak relasi “terdekat”. Di sini, misalnya, ada saling berpelukan dan saling berciuman tetapi sama sekali tidak dilandasi nafsu berahi, kecuali rasa kangen dan saling menyayangi secara kekeluargaan. Saling berpelukan dan berciuman dalam konteks “cinta platonik” pasti sangat berbeda jauh dibanding dalam konteks “cinta berahi” baik secara visual, intensitas, maupun nuansanya.

Yang ketiga adalah jarak relasi yang “agak jauh” – antara lain dengan para tetangga, teman sekantor, para klien, para kenalan, dan sebagainya. Pada jarak ini situasi berubah dari “hubungan pribadi” menjadi “hubungan kerja sama”, “persahabatan”, atau “ikatan kelompok”. Di sini hanya ada “cinta platonik”. Di sini sama sekali tidak ada “cinta berahi”, “adegan-adegan romantis dan mesra”, dan berbagai interaksi intim lainnya. Mungkin pada jarak relasi “agak jauh” ini masih ada semacam semangat “kekeluargaan” namun kadar, intensitas, dan frekuensinya pasti sangat berbeda dibanding pada jarak relasi yang “dekat”, apalagi yang “terdekat”.

Yang keempat ialah jarak relasi yang “jauh”, yang terdiri dari orang-orang yang “agak asing” dengan kita, misalnya dengan orang-orang yang baru kita kenal, tetangga jauh yang sangat jarang kita bertemu apalagi bertegur sapa, famili jauh yang nyaris tak pernah kita bertemu dengan mereka, dan semacamnya. Sesuai dengan jarak relasinya, hubungan kita dengan orang-orang dalam berbagai kelompok ini memang cukup “jauh”. Saking jauhnya, kita tak punya kesempatan untuk membangun “hubungan kerja sama”, “persahabatan”, atau “ikatan kelompok”. Kita pun tak punya “cinta platonik” pada mereka.

Dan, yang terakhir adalah jarak relasi “terjauh”. Ini terdiri dari orang-orang yang kita tidak kenal tetapi, karena satu dan lain hal, kita berada dalam satu tempat dengan mereka, misalnya sesama peserta sebuah seminar atau pesta pernikahan, sesama penumpang pesawat atau kereta api yang duduk berdekatan, dan sebagainya. Dengan mereka ini kita sama sekali tidak punya hubungan apa-apa selain “sesama warga negara” atau “sesama umat manusia”. Satu-satunya yang mengikat kita dengan mereka hanyalah “tata krama” atau “kesopanan”.

Lalu, bagaimana caranya kita “tampil #MemesonaItu” di hadapan kelima kelompok sesuai jarak-jarak relasi tersebut?

Caranya sangat mudah. Yaitu: “TAMPILLAH SESUAI JARAK RELASI KITA”. Jika jarak relasi kita dengannya adalah yang “terdekat”, maka berinteraksilah dengannya dengan jarak relasi yang “terdekat” pula – jangan dengan jarak relasi yang “dekat” apalagi yang “agak jauh”.

Jika kita menukar-nukarkan “cara” tampil kita dengan “jenis” jarak relasi kita, pasti akan timbul masalah, bahkan mungkin “bencana”.

Dengan memelihara penampilan kita sesuai jarak relasi tersebut, kita PASTI AKAN MEMESONA DI HADAPAN SIAPAPUN.

Karena pada prinsipnya, “orang yang memesona adalah orang yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya”.

Sederhana bukan?


#MemesonaItu

Rabu, 05 April 2017

UNKAKU

Aku dan Unkaku beberapa saat setelah ia menerima piala Juara Umum II untuk tingkat sekolahnya serta Juara I untuk tingkat kelasnya.


Nama panjangnya “Ince Unka Sultan Azir.” Nama pendek jantung hati kami ini ialah “Unka” – yang merupakan akrostik dari inisial nama saya dan nama suami saya.

Namun masing-masing anggota keluarga kami lebih suka memanggilnya “Unkaku”. Suku kata “ku” yang kami tambahkan di belakang namanya semata untuk mempertegas bahwa dia adalah milik atau harta titipan Tuhan yang paling berharga bagi kami di dunia ini, maupun di akhirat nanti. Insya Allah.

Saat ini usia Unkaku sudah menjelang tahun kedelapan. Ia lahir di Jakarta, 19 Desember 2009.

Kami punya banyak alasan dalam mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Namun ada tiga alasan paling substansial yang membuat kami menganggap dan memperlakukannya sebagai makhluk Tuhan yang terpenting bagi kami di dunia ini.


UNKAKU SANGAT CERDAS SEJAK BAYI

Alasan pertama yang membuat kami sangat menyayangi Unkaku ialah karena sejak bayi ia sudah menunjukkan tanda-tanda kecerdasan, bahkan kejeniusan, jauh melampaui saudara-saudara dan kerabatnya, baik dari pihak saya maupun pihak ayahnya. Berkat kepintarannya itu, Unkaku selalu menjadi fokus kebanggaan keluarga besar kami. Bahkan para tetangga kami menjulukinya “Habibie kecil.”

Pada usia 11 bulan, ia sudah bisa berkomunikasi lisan dengan setiap orang meskipun dengan ucapan yang belum fasih.

Pada usia dua tahunan, ia sudah bisa membaca buku, koran, dan bahan-bahan bacaan lainnya, baik yang berhuruf latin maupun berhuruf Arab. Ia juga bisa menulis alfabet latin maupun Arab di atas kertas dan di papan tulis; menghapal sejumlah kata dan kalimat Bahasa Inggris, termasuk the opposites; melukis orang-orang, pemandangan, dan karakter-karakter fantasi, dan lain-lain, sesuai idenya sendiri.

Selain itu, juga sejak umur dua tahun, Unkaku telah menghapal tujuh surah dalam Al Qur’an yaitu: Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An-Naas, Al ’Ashr, Al Lahab, dan Al Kautsar, serta menghapal doa-doa penting yaitu: doa sebelum dan sesudah makan, doa menjelang tidur dan bangun tidur, doa untuk belajar, dan doa saat akan keluar rumah dan pulang. Ia juga sudah menghapal lima rukun Islam dan lima rukun Iman semenjak usia tersebut.

Sejak baru belajar berbicara Unkaku telah mempraktekkan tata kesopanan yang kami ajarkan, antara lain rajin berterima kasih saat menerima pemberian atau perlakuan yang baik dari siapapun, mengucapkan dan menjawab salam, meminta maaf, dan pamit serta mencium tangan kedua orang tua saat akan pergi dan setelah pulang ke rumah.

Menginjak usia empat tahunan, Unkaku telah mampu mengoperasikan berbagai gadget seperti laptop, ipad, smartphone, dan sebagainya, walaupun tombol-tombol dan fitur-fiturnya menggunakan Bahasa Inggris.

Pada usia balita tersebut, dengan menggunakan berbagai perangkat elektronik itu, ia sudah lancar berselancar di dunia maya, mengunduh berbagai file, gambar, video; serta menulis, memotret, dan membuat video, mengirim dan menerima SMS dan telepon, berkomunikasi lewat Facebook, dan sebagainya.

Ajaibnya, semua keahlian itu tak ada yang mengajarinya, terutama karena kami tak memiliki berbagai gadget seperti itu. Unkaku mempelajarinya sendiri dengan cara mengeksplorasinya pada peralatan-peralatan milik famili kami yang kerap bertandang ke rumah kami.

Ketika duduk di bangku sekolah, yakni Madrasah Ibtidayah (setingkat SD), Unkaku selalu Juara Satu di kelasnya. Bahkan tahun 2016 lalu, selain Juara Satu di tingkat kelas, ia juga Juara Umum Ke-2 untuk tingkat sekolah.

Belakangan ini ia telah belajar dan berhasil menciptakan beberapa puisi dan cerpen sederhana.

Unkaku bangga dengan piala juaranya


UNKAKU SANGAT SABAR DAN TAAT KEPADA KEDUA ORANG TUANYA

Alasan kedua yang membuat kami begitu sayang pada Unkaku ialah karena ia sangat penyabar dan taat pada kedua orang tuanya.

Seumur hidup, ia tak pernah minta jajan dan tak pernah minta dibelikan apapun karena ia tahu kami tak punya uang.

Sejak masih berusia balita, Unkaku sangat gemar dan antusias membantu kedua orang tua, seperti disuruh membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari di kios-kios sekitar rumah kami, mengambilkan makanan dan air minum ketika ayahnya akan minum obat, dan sebagainya.


UNKAKU SANGAT RAJIN BERIBADAH

Alasan ketiga, last but not least, kami amat menyayangi Unkaku karena ia rajin beribadah. Shalat lima waktunya dan shalat Jum’atnya tak pernah putus.

Bahkan pada bulan Ramadhan 2016 lalu, Unkaku berhasil menyempurnakan puasa dan shalat tarawihnya selama sebulan penuh.

Selain itu, Unkaku rajin mengaji, baik di Qur’an kecil maupun Qur’an besar, tanpa kami suruh. Unkaku juga sangat keranjingan membaca buku-buku agama, utamanya kisah-kisah 25 Nabi dan Rasul, yang dipinjamnya dari perpustakaan.

Unkaku bersujud syukur setelah berhasil menyempurnakan puasanya selama sebulan penuh pada akhir bulan Ramadhan tahun 2016 lalu


HADIAH & HARAPAN KE DEPAN


Sebenarnya, seandainya kami punya uang, kami sangat ingin memberi Unkaku berbagai hadiah, terutama dari Elevenia, yaitu sepeda Pacific MTB 20' Viper 3.0  yang Unka sangat butuhkan untuk ke sekolah sehingga membebaskannya dari biaya angkot yang kerap cukup memberatkan kami.

Namun, karena kondisi ekonomi kami yang sangat tidak memungkinkan, maka kami pun terpaksa mengubur keinginan tersebut dalam-dalam.

Aku sedang bersiap mengantar Unkaku ke sekolahnya

Selain itu, kami punya sebuah keinginan besar – atau lebih tepatnya: mimpi besar – untuk menyekolahkan Unkaku ke luar negeri, atau ke sekolah yang sangat bermutu di tanah air yang pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar bagi ukuran kantong kami.

Rasanya mimpi kami itu sangat mustahil menjadi kenyataan, meskipun kami tidak pernah berhenti bermimpi.

Pasalnya, sejak Unkaku berumur satu tahun, ayahnya di-PHK dan menganggur hingga saat ini. Lebih parahnya lagi, suami saya itu terserang diabetes yang membuatnya terpaksa lebih banyak mendekam di pembaringan.

Sejak itu, keluarga kami pun hidup serabutan dan terkadang tidak makan selama berhari-hari, hingga detik ini.

Selama ini kami hanya hidup dari pemberian dan belas kasih para saudara kami serta para tetangga dan sahabat kami.

Supaya Unkaku bisa makan, saya berusaha mendapat uang dengan berbagai cara yang halal dan memungkinkan, antara lain membantu kerabat memasak berbagai hidangan untuk acara ulang tahun, selamatan, dan sebagainya.

Jika kebetulan ada uang untuk membayar Warnet, saya juga berusaha mengikuti kuis-kuis dan berbagai ajang lomba di internet, utamanya blog competition, yang berhadiah uang, voucher, atau makanan.

Di tengah kemelaratan kami ini, harusnya Unkaku menderita kekurangan gizi. Namun, alhamdulillah, berkat pertolongan Tuhan, kami bisa memberi makan Unkaku walaupun dengan menu apa adanya. Ajaibnya, otaknya malah tumbuh dengan sangat baik.

Semua itu kami anggap sebagai mukjizat.

Dan kami yakin, Tuhan masih akan berkenan memberi kami mukjizat-mukjizat berikutnya.

Namun, di atas semua itu, mukjizat terdahsyat dan terindah dalam kehidupan kami selama ini adalah kehadiran Unkaku di lubuk hati kami. Dialah yang membuat kami mampu bertahan dari berbagai ujian Tuhan yang kami hadapi selama ini – seperti ketiadaan uang, kelaparan, pengusiran dari rumah kos karena kami tak mampu membayarnya, dan sebagainya.

Dan Unkaku pulalah yang membuat kami yakin bahwa “Tuhan Selalu Bersama Kami”. Dan suatu saat, Tuhan pasti akan memberi yang terbaik untuk Unkaku.



Waspada Modus Baru Penculik Incar Anak-anak


Orang tua kembali diminta meningkatkan kewaspadaan dalam mendidik dan mengawasi anak. Sebab, di era milenial sekarang ini, anak tak hanya memiliki teman di sekolah maupun di lingkungan rumah, tetapi juga berteman di media sosial.

Hal itulah yang tak bisa sepenuhnya dipantau oleh keluarga. Berteman di media sosial tak disalahkan, tetapi jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang luas, maka bisa keluar dari alam bawah sadar.

Banyak contoh yang terjadi belakangan ini, di mana anak diculik oleh orang tak dikenal lantaran berkenalan di media sosial. Biasanya, penculik anak mengincar korban yang lemah atau mudah untuk dirayu sehingga mau menuruti apa yang mereka inginkan. Kasus tersebut bukan hanya sekali terjadi, bahkan sudah berkali-kali dan pelakunya sudah banyak yang ditangkap polisi.

Komisi Nasional Perlindungan Anak mendata, sejak tahun 2014 hingga 2017, kasus penculikan anak terus meningkat. Latar belakang penculikan diklasifikasikan menjadi lima. Diculik untuk diadopsi secara ilegal, untuk balas dendam atau meminta tebusan, dipekerjakan secara paksa menjadi anak jalanan, pembantu rumah tangga dan pengemis, untuk eksploitasi seks komersial dan tidak menutup kemungkinan juga untuk penjualan organ tubuh.

Pada tahun 2014, data kasus penculikan anak yang masuk ke Komnas Anak sebanyak 51 Kasus. Dari kasus tersebut, enam di antaranya merupakan penculikan bayi. Sementara itu tahun 2015 ada 87 kasus, 21 di antaranya adopsi ilegal, 25 kasus dipekerjakan secara paksa, 24 kasus seks komersial dan 17 kasus balas denam atau tebusan.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengungkapkan pada tahun 2016 jumlah kasus penculikan anak naik menjadi 112 kasus. Dengan perincian adopsi ilegal sebanyak 32 kasus, dipekerjakan secara paksa 27 kasus, seksual komersial 24 kasus, dan balas dendam atau meminta tebusan sebanyak 29 kasus.

"Untuk tahun 2017, yang dihitung sampai bulan Januari hingga Maret terdapat 23 kasus penculikan. Latar belakangnya yaitu, adopsi ilegal 6 kasus, dipekerjakan secara paksa 9 kasus, seksual komersial 4 kasus, dan balas dendam atau minta tebusan sebanyak 4 kasus," ujar Arist di kantornya, Jumat.

Arist mengungkapkan, selain kasus-kasus tersebut, modus penculikan saat ini juga terbilang baru. Para pelaku mengamati situasi agar mudah masuk dalam lingkungan anak-anak.

"Sekarang sudah tidak ada lagi penculik menggunakan motor langsung ambil anak, atau memasukkan ke dalam mobil. Tidak seperti itu. Sekarang sudah banyak macamnya," kata Arist.

Dia mengungkapkan, cara penculikan anak yang sedang marak saat ini yaitu dengan berpura-pura menjadi orang gila. Untuk mengelabui orang di sekitar lingkungan, para pelaku kerap berpura-pura menjadi orang gila. Jika nanti upaya menculiknya gagal dan tercium oleh orang lain, ia dapat berpura-pura gila untuk meloloskan diri dari jerat hukum.

"Selain itu, ada juga para penculik yang sengaja berpura-pura sebagai pengemis. Seperti yang terjadi di Surabaya," kata Arist

Ada juga cara yang dilakukan para penculik dengan mengaku sebagai suruhan orang tua atau keluarga terdekatnya. "Bisa saja pelaku penculik mengaku disuruh oleh ayah atau ibu si anak untuk menjemput dan mengantar anak. Itu bisa terjadi," lanjut dia.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dari Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, melontarkan hal senada. Menurut dia, biasanya pelaku tawarkan iming iming atau mengaku kenal dengan teman dan keluarga korban. “Jadi kalau ada tipu rayu, tolong diwaspadai. Terutama orang tak dikenal, jangan langsung percaya,” kata Argo.

Cara berikutnya yang kerap digunakan oleh para pelaku penculikan, lanjut Arist, yakni dengan menyamar sebagai pedagang keliling. Seperti pedagang jajanan anak atau pedagang kebutuhan rumah tangga.

"Ini tentu perlu kewaspadaan dari para orang tua agar jangan sampai lepas kontrol terhadap anak," ujarnya.
Namun, menurut Argo, modus ini terlalu berisiko bagi pelaku. Walaupun bisa saja itu terjadi, cara itu bisa dibilang sulit dilakukan.

“Kan kalau jual makanan, banyak orang. Nggak lah kalau jualan di sekolah, karena lingkungan sekitar kenal, termasuk guru. Jadi lebih karena orang sekitar yang mengiming-imingi [korban],” kata Argo.

Dikutip dari VIVA.co.id
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Terima kasih sudah berkomentar yang sopan dan membangun.
Jangan bosan untuk berkunjung lagi ya....