Selasa, 25 April 2017

Visibilitas Produk, Cuma Itu kok Masalahnya...

Pak Hadi, pedagang keliling kerajinan bambu di Kalimantan Timur. (Foto: Eksposkaltim)

Hah? Benarkah? Idih, tragis amat...

Menurut Samanta (http://grassamanta.blogspot.co.id/2016/03/sai.html), pedagang keliling seperti jamu gendong, penjual sayur, dan sebagainya, harus berjalan kaki rata-rata sejauh 17 km per hari demi memburu pembeli.

Kayaknya Samanta nggak bohong. Meski ia hanya seorang pemuisi, tetapi mayoritas puisinya ia tulis berdasarkan fakta-fakta hasil riset yang valid.

Dan, memang, kalau kita amati di lapangan, apa yang diungkapkan penyair unik itu benar adanya.

Coba lihat...

Pak Hadi, misalnya, pedagang keliling kerajinan bambu di Kalimantan Timur, yang tiap hari harus berjalan kaki berkilo-kilo meter sambil mendorong gerobaknya.

Para penjaja kasur dan bantal di seputar Jabodetabek malah lebih parah lagi. Mereka harus memikul dagangannya yang lumayan berat, semata-mata untuk mengejar para calon pembeli.

Para pengasong barang-barang kelontong di Makasar, Sulawesi Selatan, masih mendingan. Mereka menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda tiga, untuk menawarkan dagangannya di gang-gang dan sudut-sudut kampung.


Di New York City, Amerika Serikat, seorang penjaja hot dog rela membayar sebanyak USD 289,000 (sekitar Rp 4 milyar) per tahun demi visibilitas usahanya. (Foto: fslyb.com)


Begitu pula para pedagang pakaian di Sumedang, Jawa Barat, yang menggunakan mobil-mobil angkot yang dipermak menjadi toko-toko keliling.

Tetapi, fenomena seperti semua yang dilukiskan di atas ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara barat semua itu masih menjadi pemandangan sehari-hari.

Bedanya, di negara-negara kaya itu para pedagang kelilingnya sebagian besar tergolong tajir.

Contohnya di New York City, Amerika Serikat, para penjual makanan mengasong di jalan-jalan raya, dan terkadang mangkal di tengah jalan – meskipun untuk itu ada di antara mereka yang harus membayar USD 289,000, atau sekitar Rp 4 milyar, per tahun (lihat di fslyb.com).

Berbagai sikap dan perilaku yang unik, menyedihkan, dan terkadang nekat atau konroversial, yang ditunjukkan para pedagang itu – menurut para pakar bisnis – merupakan bukti kian ketatnya persaingan dalam dunia penjualan barang dan jasa, baik yang berskala gurem maupun raksasa, di seluruh pelosok bumi, baik di perkotaan maupun perdesaan.


Untuk mengerek visibilitas produknya, pabrik roti Mars di Edgewood, Maryland, Amerika Serikat, menciptakan salah satu dari roti produk mereka dengan ukuran yang pas untuk diangkut dengan truk gandeng raksasa. (Foto: shareably.net)


Para dedengkot marketing, antara lain Neil H. Borden, mengungkapkan, untuk mengerek keberhasilan pemasaran suatu produk di tengah kian bengisnya persaingan bisnis di seluruh dunia, para produsen perlu menerapkan “7-P” yang kini makin menjadi mantra bisnis yang dianut banyak pengusaha, yaitu:
  1. Product (produk) yang perlu didesain sesuai kebutuhan konsumen;
  2. Price (harga) yang perlu ditetapkan secara kompetitif dan terjangkau;
  3. Place (tempat) yang mudah dicapai secara fisik;
  4. Promotion (promosi) untuk memperkenalkan sekaligus meningkatkan visibilitas produk;
  5. People (orang-orang) yang menjadi sasaran promosi;
  6. Physical evidence (bukti fisik) seperti seragam, fasilitas, dan ciri khas, dan
  7. Process (proses) berupa sensasi pengalaman pelanggan atau calon pelanggan secara keseluruhan, misalnya kunjungan gratis ke Dunia Fantasi sebagai suatu bentuk promosi yang efektif.

Dari ketujuh “P” ini yang paling menentukan laku atau tidaknya barang maupun jasa yang ditawarkan ialah Promosi. Dan substansi dari Promosi ini, menurut para ahli, ialah visibilitas produk – yang intinya adalah “bagaimana agar produk maupun jasa tersebut selalu dilihat sehingga lebih berpeluang dipilih untuk digunakan oleh konsumen”.

Pendek kata, visibilitas adalah faktor penentu yang paling strategis bagi sebuah bisnis yang sekecil maupun segede apapun.

Demi meraih visibilitas itulah sehingga para pengasong di Indonesia harus bejalan kaki 17 km per hari; dan rekan mereka di negeri Paman Sam harus membayar Rp 4 milyar per tahun.

Perempuan penjual sayur keliling. (Foto: Kompasiana)

Namun, menurut para profesional Bisnis Online, seperti Catalin Zorzini, dalam era kehidupan yang semakin digital ini, sudah bukan zamannya lagi para pemasar atau pedagang bertindak yang aneh-aneh – misalnya berjalan kaki sejauh 17 km, atau membayar Rp 4 milyar per tahun – dalam upaya meningkatkan visibilitas mereka.

Karena internet dewasa ini makin menyebar hingga ke pelosok-pelosok terpencil di seluruh planet ini.

Internet – yang kini makin memenuhi semua hajat hidup manusia, termasuk dalam dunia jual beli barang dan jasa – bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan Bisnis Online sehingga tiap produsen atau pengasong tak perlu lagi berjalan kaki jauh-jauh, dan tak perlu membayar mahal-mahal.

Dengan Bisnis Online, Semua barang dan jasa yang mereka tawarkan bukan hanya akan meroket visibilitasnya, melainkan juga bakal sangat luas daya jangkaunya. Dan yang lebih penting lagi, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk itu amatlah minim.

Semua yang diungkapkan para ahli Bisnis Online itu bukan sekadar teori. Banyak bukti konkretnya di lapangan.

Salah seorang penjaja kasur dan bantal di Jabodetabek. (Foto: Google)

Contohnya di pedalaman Bogor, Jawa Barat. Sejak berpuluh tahun lalu, banyak pengrajin kecil yang memproduksi barang-barang seperti tas, jaket, sepatu, T-shirt, dan sebagainya, secara rumahan, dengan modal dan skala yang pas-pasan.

Dulu, sebelum hadirnya internet, mereka hanya mampu memasarkan produknya ke berbagai pasar di sekitar Bogor, atau melalui para pedagang asongan. Total penjualannya sangat terbatas, bahkan ada yang tidak laku, sehingga banyak di antara mereka waktu itu yang terpaksa gulung tikar.

Sejak 4 tahun yang lalu, ketika jaringan internet di sana telah lancar, mereka pun mulai mencoba memasarkan produknya melalui Bisnis Online. Kini mereka berhasil menjual dagangannya itu ke seluruh Indonesia, bahkan ada yang sampai ke Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah. Omsetnya pun melejit sampai rata-rata di atas enam kali lipat.

Pedagang pakaian di Sumedang, Jawa Barat. (Foto: Google)

Contoh-contoh keberhasilan Bisnis Online seperti itu banyak terjadi di seluruh Indonesia.

Uniknya, Bisnis Online itu bisa diterapkan oleh produsen yang berskala terkecil maupun terbesar. Pendek kata, ia merupakan sistem penjualan yang terjangkau oleh semua size pedagang.

Selain itu, Bisnis Online sangat ramah lingkungan (friendly environmental), utamanya karena ia sangat kurang menggunakan kendaraan bermotor pemicu terjadinya emisi karbondioksida yang merupakan penyebab utama pemanasan global (global warming) yang makin mengancam umat manusia di bumi dewasa ini.

Pendek kata, ia merupakan sebuah bisnis hijau (green business) yang sangat menunjang upaya pelestarian lingkungan hidup.

Pedagang keliling di Makasar, Sulawesi Selatan. (Foto: Antara News)

Lantas, sekarang, bagaimana langkah-langkah Bisnis Online itu?

Menurut para pakar, kesuksesan sebuah Bisnis Online tergantung pada 20 langkah:
  1. Memantapkan dan memelihara kerja sama jangka panjang dengan sebuah perusahaan web hosting;
  2. Menjamin agar website yang digunakan sangat aman dan dapat diandalkan, utamanya dengan dukungan teknis dari para staf perusahaan web hosting yang bersangkutan;
  3. Menciptakan ide bisnis yang unik;
  4. Menciptakan proposisi penjualan yang lain dari yang lain;
  5. Membidik calon pelanggan yang tepat;
  6. Memicu daya pikat pada pandangan pertama;
  7. Menyajikan detail tiap produk secara audio-visual di samping tekstual;
  8. Menciptakan sistem pemberian poin atau hadiah guna menarik hati pelanggan dan calon pelanggan;
  9. Mempermudah tiap konsumen dalam mengakses dan menelusuri tiap item yang dipasarkan;
  10. Menciptakan sistem dukungan percakapan langsung untuk membantu tiap pelanggan maupun calon pelanggan;
  11. Menjamin kesempurnaan daftar dan keranjang belanja tiap pembeli;
  12. Menjamin strategi pengiriman barang yang cepat, efektif, efisien, dan kompetitif;
  13. Mengembangkan sistem umpan balik yang sangat mempernyaman tiap pelanggan;
  14. Menciptakan dan mengelola blog pendukung yang selalu ter-update;
  15. Menciptakan halaman profil yang menggugah;
  16. Mengembangkan brosur atau berkala agar tiap pelanggan maupun calon pelanggan memperoleh informasi yang baik dan benar;
  17. Memanfaatkan media sosial – utamanya Facebook, Twitter, dan Instagram – untuk memacu promosi;
  18. Mengembangkan sistem reselling yang menguntungkan semua pihak;
  19. Memberi dukungan khusus kepada para pelanggan maupun calon pelanggan yang menggunakan ponsel atau smartphone;
  20. Membangun strategi optimalisasi mesin pencari (SEO) yang paling efektif.
Dari ke-20 langkah tersebut, ada 3 faktor strategis sekaligus pemasti visibilitas sekaligus kesuksesan sebuah Bisnis Online:
  1. Penguasaan ketrampilan mendesain dan mengelola website;
  2. Penguasaan pengetahuan di bidang digital marketing; dan
  3. Penguasaan ketrampilan desain grafis.
Tanpa ketiga faktor ini, jangan pernah bermimpi untuk ber-Bisnis Online.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Terima kasih sudah berkomentar yang sopan dan membangun.
Jangan bosan untuk berkunjung lagi ya....